skip to main |
skip to sidebar
cerita ini beawal saat hari sabtu sebelum minggu sesudah jum`at tanggal11 desember 2009
awalnya becerita tentang jery dan massa depannya tapi farhan memulai cerita dengan judul....
"klinik dokter roy"
dari depan klinik terlihat klinik suram tak layak disebut klinik tapi itu klinik satu-satunya di daerak tesebut pagar klinik tingginya sampai setengah meter. di depan klinik terdapat pohon kayu yang besar disana terlihat sesajen yang masih terhirup wangi bauk menyan teras klinik terdapat ceceran darah ayam yang mengerikan masuk kedalam rumah ditempat antrian pasien ter lihat sebuah jam besar "kuno"saat itu seorang pasien datang untuk berobat jam pukul 12 siang lonceng jam bedetak toeng..... toeng.... toeng...toeng..... toeng.... toeng....toeng..... toeng.... toeng.....
dan saat jam berbunyi toeng selalu ada burung nuri yang keluar dari jam ter sebut tapi keanehan terdapat pada burung tersebut kepalanya pata seakan akan di penggal oleh seseorang karena pasieh ter sebut telah lama menunggu akhirnya ia memutuskan untuk masuk kedalam ruangan diruangan perta ma lampu yang mati hidupmati hidupmati hidupmati hidupmati hidupmati hidupmati hidupmembuat pasien tesebut takut apalagi melihat papan nama di ruangan ter sebut tertulis ruang operasi tapi ia ber fikir ruang operasi kok lampunya mati hidup kayak gini
so dengan tenang ia melangkah kan kaki nya kembali menuju ruang berikutnya untuk menjumpai pak dokter di ujung gang antara ruang satu dengan ruang lain nya terdapat sebuah ruangan yang dipapad namaruang terdapat tulisan ruang rawat inap pasien tersebut masuk kedalam ruanggan dan tiba tiba jendela terbuka kemudian disusul oleh angin yang menghembus korden seakan akan dalam kesunyian tapi sang pasien tertantang dan mendekati jendela di luar jendela terlihat sebuat makam yang bertuliskan yang tercinta toni karena telah tertantang akhirnya sang pasien keluar dari ruangan tersebut terlihat dengan jelas di ujung gang sebuah ruangan yang bertuliskan laboratorium karena hasrat ingin tahu dan naluri seorang paseien yang kuat ia mendekat dan masuk kedalam lab tersebut tapi saat ia membuka lab tersebut semburan asap tebal keluar dari ruangan tersebut membuat pasien panik dan meninggalkan ruangan tersebut kepanikan itu berujung pada malapetaka karna lari pontang panting ....
to be continue
( Catatan kecil pasca “Ramadhan” )
Ini hari ke 5, dan hujan turun dengan deras hari ini.
aku berangkat dengan diiringi rintik hujan. aku pulang pun hujan masi mengiringi langkah gw.
aku ingin membuat hujan di kamar ku. Tapi ntar banjir. Siapa yang mau ngepelin?
tapi aku ingat cerita
Mega hajatan itu sudah lalu bersama waktu. Mestinya lagi jos-josnya kalo bicara iman di hati masing-masing.
Ternyata….
Memupus kobaran nyala “setan kecil” ternyata tak semudah membalik telapak tangan. Ingin ku lipat saja.. tapi tanpa kusadari dia telah menyandera seluruh otak dan pikiranku, nalar dan segala macam dogma-dogma moral seperti lesap ditelan bumi. Meng-eliminirnya adalah suatu kemustahilan….
Merenung di tebaran derai tawa penerus-penerusku… kulihat semua begitu alami, menukik di sisi kedunguanku yang terkapar kembali ditelikung “setan-setan kecilku”
Ndomblong…..
Hanya dapat memandang nyala-nyala yang selama Ramadhan hanya redup-kecil itu mulai liar dan berkobar lagi melalap seluruh potensiku… sodokkan dan hentakkannya pada timbunan hasratku sudah mulai membuatnya terbakar dan arang kambang dikipas-kipas… akhirnya membara dalam diamku! Aku tak sempat lagi mencerna etika dan norma yang mestinya masih tersimpan di saku baju gamisku. Ya.. kadang aku merasa asing dengan kondisi yang hangar bingar memenuhi ruang kesadaranku ini. Medan perang terbuka bak tengah digelar di jagat kecilku…. Baik dan buruk sedang berhadapan saling membidikkan senjatanya masing-masing.
Ndableg…
Mimbar di depanku belum lagi ditinggalkan sang pengkhotbah.. suara takbir dan tahmid juga lamat-lamat masih terdengar …. lha koq berani-beraninya dia menyeruak dan mengobrak-abrik diam khusyukku…!! Lagi-lagi aku hanya bisa diam… sementara serambi-serambi nurani sudah dari tadi lintang pukang cerai berai berlarian menjauhi kiblat!
Aah.. rupanya aku belum kenal betul dengan desertir-desertir laten itu.. Aku sering kecolongan langkah, selalu kusadari ketika semuanya terlanjur runyam membelit seluruh hidup dan kehidupanku..
Deleg-deleg….
Bersandar ditiang “soko” rumah-Nya… serasa tuli dan kebas telingaku dari ayat-ayat-Nya. Jika saja ada obatnya, jika ada dokternya …. Jawabnya “obatnya ada dalam dirimu nak.., iman di qolbu-mu harus selalu kau siangi dan siram setiap waktu”
Aku selalu mencoba untuk tidak membuat jawaban itu sesuatu yang klise.. Kuyakini betul begitu, namun ajarkanlah shortcut atau trick agar aku bias menembakkan senjataku secepat Lucky Luke sang koboi, karena genderang perang itu telah ditabuh bertalu-talu.
Hidup adalah kumpulan perang yang mestinya mengharuskan kita membidikkan senjata ke diri kita sendiri, sebelum membidikkan ke orang lain. Karena jihad terbesar ada dalam diri.. ada perang disetiap tarikkan nafas, ada intrik-intrik asusila di setiap detak jantung.
Pulang petang kadang tidak selalu membawa hasil yang gemilang… seperti nelayan yang kuyu-lunglai setelah kepergok badai, seperti petani yang panenannya diterjang hama…. Umur kadang bukan jaminan untuk keberhasilan dan bertahtanya kebijaksanaan seseorang, walaupun kita sadari hidup hanya sekali sedang kematian datangnya tak kita ketahui.